Label

Minggu, 03 Januari 2010

a night of decision

Berat. Sesak. Seperti ada batu besar disimpan di atas dadaku.

Memoriku terputar pada pembicaraan semalam di telepon yang berlangsung sekitar 20 menit, lebih banyak diamnya ketimbang bicaranya.

Bagi orang tuaku, ini adalah masalah kecil. Masalah yang kita hadapi ini bukan masalah besar”

Mereka masih belum bisa ngasih kepercayaan buat aku

Kalo gitu, kita ambil opsi kedua. Mulai semua dari awal?”

Aku ngga tau, apa aku bisa menghadapi ini semua?”

Potongan demi potongan pembicaraan berkelebat dalam pikiranku. Keputusan itu aku ambil, sejernih dan selogis mungkin. Opsi yang dulu ga bisa aku terima itu, akhirnya ku ambil juga. Tidak mudah bagimu, aku tahu. Tidak mudah juga bagiku. Tidak mudah bagi kita.

Tapi mungkin ini yang terbaik. Tidak perlu menyalahkan apapun. Mungkin memang harus begini.

Saat aku menulis ini, mataku berkaca-kaca. Saat ini, aku merasa kakiku menjejak di antara nyata dan mimpi. Lalu aku menarik nafas panjang. “Fiuuuuuuuuh……….”. sebanyak apapun air mata yang aku tumpahkan, takkan merubah kenyataan. Mata ini juga sudah lelah menangis. Jika ia bisa berbicara pada hati, mungkin ia akan berkata “Sebanyak apa aku harus menumpahkan air mata agar kamu lega?!!”

Aku teringat pada kata-kata terkahir yang aku ucapkan di telepon semalam.

“Kalau memang jodoh, ga akan kemana

Insya Allah…”

“Insya Allah”

“Berkah terbaik mungkin saja terbungkus dalam kemasan yang terburuk. Saat ini semua masih menjadi rahasia Allah, tapi insya Allah semua akan indah pada waktunya”

“Semoga Allah meridhoi jalan yang akan kita jejaki.. Amiin..”

Sukabumi, 03 januari 2010

Malam, sekitar jam 20.30 – 21.00

1 komentar: